Best Mistakes - Part 2


Sebulan berlalu saat kejadian yang tragis itu menimpa hidup po, kini po perlahan bangkit dengan senyumnya yang menggemaskan hati, ingin rasanya aku mencubit pipinya dikala dia sedang tersenyum. Hari-hari semakin baik karena senyumnya selalu menghiasi pagi hariku dengan sejuta mawar dan melati aku pun menanyainya. Dengan berlutut aku berkata, "maukah kau menjadi malaikat di hidupku? Menjadi bidadari yang selalu menemaniku? Dan menjadi ibu dari anak-anak ku?" Dengan wajah yang merah karena malu dia berkata, "aku bersedia jadi malaikat maupun bidadarimu dan aku juga bersedia menjadi ibu dari anak-anak mu." Mendengar pernyataan tersebut aku langsung berdiri dan menatapnya dalam-dalam meyakinkan kalau kamu adalah tulang rusuk ku dan menjadi pelengkap di hidupku. Sehari setelahnya kami sangat disibukan oleh urusan makanan, undangan dan tata ruang pernikahan kami nanti, mama ku dan po sangat telaten mengurusi perlengkapan upacara suci itu tapi ada saja kendalahnya.

Bagian katering makanan itu membuat kami repot dengan beribu alasan untuk menolak kerja sama dari kami, karena beberapa minggu yang lalu katering itu batal karena ada kecelekaan orang tua po. Tapi aku tak kalah bicara, aku langsung menggunakan jurus-jurus jitu untuk membuat orang lain percaya kembali. "Pak ini gimana kateringnya? Udah hampir waktunya tinggal beberapa hari lagi!" Bicaraku dengan tegas, "maaf saya tidak menerimanya kembali karena yang beberapa minggu lalu kami sudah siap tapi batal!" Jawabnya mempertegas kesalahanku, "maaf soal minggu lalu pak, saya sangat menyesal membatalkan kateringnya tapi mau bagaimana lagi? Orang tua wanita saya meninggal dunia." Jawabku memelas, pak probo pun berpikir sedikit lama dan menoleh ke arahku. "Baiklah, saya terima ini. Jangan dibatalkan lagi ya?" Jawabnya sambil bergurau, "gak bakal dibatalkan lagi kok pak, ini sudah mepet soalnya" aku pun tersenyum dan bernafas lega.

Semua sudah siap mulai dari tata ruang yang aku gambarkan seperti suasana kerajaan yang klasik sampai tata lampu yang sedikit remang, karena aku ingin semuanya merasakan kebahagiaan ketika berada diruangan tersebut. Karena semakin banyak kebahagian dihari pernikahan akan membuat keawetan rumah tangga. 4 hari setelah itu, pernikahan pun berlangsung di gedung tua yang berada disebrang jalan rumah ku , membuat aku semakin deg-degan. Suasana yang begitu ramai membuat aku semakin berkeringat dingin, dan waktu yang ditunggu pun tiba. seorang penghulu berkata kepada malisa, "Apakah kau bersedia menikahi dani dan menjadi istrinya untuk selamanya?" Tanya penghulu separuh baya itu dengan pakaian putih serta jenggot putih yang khas. "Aku bersedia" jawab malisa dengan nada tegas namun lembut. "Apakah kau bersedia menjadi suaminya dan menafkahinya seumur hidupmu?" Tanyanya kepadaku, "aku bersedia." Lalu dia mengatakan, "dengan rahmat dari tuhan kalian menjadi suami istri yang sah." Lalu kami pun berciuman untuk pertama kalinya aku merasakan hal aneh saat menciumnya, rasanya seperti strawberry atau lecci? Mungkin hanya perasaanku saja, lalu kami bergandengan tangan dan menuju ke acara resepsi untuk berfoto bersama teman dan keluarga.

Salah seorang temanku menghampiri dan menjabat tanganku, "langgeng ya sob, 'jangan lupa buat dia kewalahan,' hahaha." Sambil membisikkan lelucon itu ketelingaku, hariz selalu bisa membuat aku menjadi yang wah diantara yang lain semangatnya sangat berarti bagiku, karena itu kita bersahabat seperti spongebob dan patrick. Meskipun kita selalu melakukan hal bodoh tapi dia yang selalu berusaha membuatnya menjadi spesial. keesokan harinya, badanku terasa capek sekali, aku sampai tak kuasa menahan sakit dipinggang dan kakiku saat terlalu lama berdiri kemarin, namun po selalu menyemangatiku layaknya malaikat yang selalu berbisik untuk mengerjakan kebaikan. Senyumnya yang menawan membuat aku kagum dan selalu menatapnya sepanjang hari, aku dan po mungkin sudah memiliki kehidupan yang sempurna saat semua terjadi layaknya pengantin pada umumnya.

Po yang memintahku untuk membuat ini spesial karena ini baru kalipertama kami melakukannya, dengan penuh kelembutan aku pun langsung menciumnya dan dia membalas dengan kelembutan pula. Serasa berada di ujung dunia yang tersisa hanya kami, dan menikmati dunia kita sendiri, dan membuatnya semakin indah dengan kejutan yang tak pernah dibayangkan oleh akal. Terima kasih tuhan engkau telah membuat hidupku sempurna dengan kehadirannya, buatlah kami selalu berada di jalanmu dan buat kami berada dalam surgamu nanti.

Bersambung..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penguasa

Manusia

Don't Judge Anyone