Best Mistakes
Aku mulai memasuki toko yang berada di ujung jalan, sesampainya didalam aku lalu duduk sambil memesan kopi kesukaanku dan melihat suasana sekitar. Setelah kopiku jadi aku langsung meminumnya dalam kehangatannya, aku dikejutkan oleh suara ringtone sms dari balik saku ku. Aku segera membuka handphone yang berada dibalik saku, dan aku sangat terkejut melihat sms dari teman wanitaku, dia bernama malisa tapi aku sering memanggil dia po, karena wajahnya yang lucu dan selalu membuat gemas dengan rambut pirangnya menambah kecantikan gadis yang aku puja ini.
Dia menulis, "Dani,tengoklah kearah pintu masuk, aku ingin menemuimu!"
Sesegera mungkin aku langsung menengok ke arah pintu masuk dan keluar itu betapa terkejutnya aku, "kenapa kamu ada di sini?" Tanyaku, "aku ingin membuat cerita denganmu," balasnya dengan agak terseduh, "loh kok nangis?" Jawabku kebingungan, langsung aku ajak dia masuk dan duduk di sofa merah panjang dekat pintu masuk. Aku mulai dengan obrolan ringan, "kamu kenapa kok nangis? Cantiknya hilang loo," dia langsung tersenyum dan memukul tangan kiriku dengan gemas sambil merengek seperti anak kecil dia berkata "aku mau nikah sama kamu!" Aku langsung tertegun "loh secepat ini? Apa kamu sudah mempertimbangkannya? bahkan kita belum pacaran." Dia pun melanjutkan tangisannya dan terisak dan berbicara, "aku sudah yakin dengan keputusanku, jangan membuat aku berubah pikiran!" Aku diam sejenak memastikan ini bukan lelucon, dan menatapnya dalam-dalam sampai air mata yang ada dipipinya aku usap dengan penuh kasih sayang, kupeluk dia dalam indahnya malam musim gugur.
Betapa bahagia aku saat pagi tiba, orang tuaku sungguh senang karena dia tau po adalah anak yang baik untuk dijadikan menantu. "Ma, 2 minggu lagi aku nikah sama po!" dia sedikit kaget, "apa benar? Mama akan punya menantu?" Dia bahagia mendengar kabar baik itu dan langsung memelukku.
Namun ada berita buruk, seminggu kemudian orang tua po meninggal karena kecelakaan tunggal di sebuah jalan rute 66, hati po sangat hancur setelah mendengar kejadian itu. Aku pun merasakan perih sekali di dada dan sangat sulit bernafas. Pagi harinya aku ikut memakamkan kedua orang tua po yang aku kenal ramah tama tersebut, po hanya bisa menangis melihat kedua orang tuanya masuk ke tanah yang berbentuk persegi panjang itu, tempat peristirahatan terakhir mereka.
Semoga mereka tenang dan meninggalkan dunia tanpa ada beban dan harapan yang akan selalu berkembang untuk membahagiakan po. setelah beberapa hari po masih berada dalam hanyutan kesedihan yang kian dalam, aku pun tak bisa berbuat apa-apa selain melihatnya dan mendoakannya. Setelah kejadian itu po tinggal bersamaku dan pernikahan kami pun diundur sampai po siap, entah itu kapan tapi yang pasti aku dan po saling mencintai.
Bersambung...
Komentar